Langsung ke konten utama

Lunturnya Ruhiyah Seseorang

 

Lunturnya Ruhiyah Seseorang


What????

Iya apa definisi ruhiyah itu. Ruhiyah itu adalah hubungan erat antara hamba dengan Allah SWT. Ruhiyah itu adalah kekuatan inti dari seseorang dalam menunaikan kerja amal dakwah dan ruhiyah itu tercermin dari pada keteduhan diri, ibadah, tilawah Quran, puasa sunnah, qiyamullail dan ibadah – ibadah lainnya. 


Who????

Indikasi bahwa seseorang memiliki aspek ruhiyah yang kuat adalah adanya sikap ketergantungan yang sangat tinggi terhadap Allah SWT. Ia menjadikan Allah SWT sebagai satu-satunya tujuan dalam segala hal yang dibarengi dengan kegigihan dan kesungguhannya dalam mengerjakan sebuah aktivitas. Ia berupaya keras untuk selalu mengisi kehidupannya dengan kebajikan dan perbuatan yang bermanfaat. Ia juga berupaya meninggalkan keburukan dan hal-hal yang tidak berguna. Ia gemar menjalankan ibadah-ibadah sunnah. Perangainya sangat terjaga dan merupakan cerminan dari akhlak karimah seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Seorang Pendakwah yang memiliki aspek ruhiyah yang kuat adalah seseorang yang mampu memberi makna terhadap setiap peristiwa yang terjadi dalam hubungan dirinya dengan Tuhannya dan segala kekuasaan yang dimiliki-Nya. Ia akan merasakan keberadaan Tuhan dalam berbagai peristiwa yang terjadi dan fakta-fakta yang disaksikannya

Apabila nilai-nilai tersebut terlepas dari genggaman aktivis dakwah, maka ianya akan melemahkan semangat ruhiyahnya sehingga kemudiannya ia jatuh `sakit' dan berakhir dengan `kematian' ruhiyah tersebut, Naudzubillah.  Kejadian fenomena ruhiyah yang lesu dan rapuh ini tidak sedikit jumlahnya. Di sini akan disebutkan sebahagiannya sambil diperturunkan beberapa peristiwa di medan agar dapat menjadi peringatan bagi setiap aktivis dakwah dan seterusnya dia perlu bersegera bagi mengatasinya 


MERASAKAN KERAS DAN KASARNYA HATI

Fenomena di atas mengakibatkan seseorang merasakan bahwa hatinya telah berubah menjadi batu yang keras. Tidak ada sesuatupun yang dapat menyerap kepadanya ataupun mempengaruhinya. Tidaklah berlebihan jika ungkapan di atas dinyatakan sebegitu, bahkan Al Qur'an telah menerangkan bahwa hati boleh mengeras hingga menjadi sekeras batu. 

Allah swt berfirman : "Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi." (QS Al Baqarah : 74) 


PERANGAI YANG TERSUMBAT DAN DADA YANG SEMPIT

Fenomena ini menjadikan seseorang :

a. Terasa ada beban berat yang menghimpit sehingga termengah-mengah keletihan. 

b. Sering mengomel dan mengeluh terhadap sesuatu yang tidak jelas. 

c. Gelisah dan sempit dalam pergaulan sehingga tidak peduli terhadap penderitaan orang lain bahkan timbul ketidaksukaan kepada mereka. 


TIDAK TERPENGARUH OLEH AYAT-AYAT AL QUR’AN 

Hatinya tidak sedikitpun terkesan dengan ayat-ayat Al-Qur'an yang mengandungi tuntutan, larangan, ancaman atau tentang peristiwa kiamat. Dia mendengarkan Al-Qur'an seperti mendengar kalam-kalam lainnya.Lebih merbahaya lagi apabila dia merasa sempit dada ketika mendengarkan ayat Al-Qur'an seperti sempitnya dia ketika mendengarkan perbualan orang lain. Dia tidak menyediakan waktu sedikitpun untuk tilawah dan apabila mendengarnya dari orang lain dia tidak melakukannya dengan khusyu' dan tenang. 


PERISTIWA KEMATIAN TIDAK MEMBERIKAN BEKAS KEPADA DIRINYA

Boleh dikatakan semua peristiwa yang melibatkan kematian sedikitpun tidak ada pengaruh terhadap dirinya seperti :

a. Menyaksikan orang mati. 

b. Mengusung jenazah. 

c. Menguburkannya di liang lahad. 

Jika melalui kawasan perkuburan, seakan-akan ianya hanya berpapasan dengan batu-batu bisu yang tidak sedikitpun mengingatkannya terhadap kematian. 


KECINTAANNYA TERHADAP KESENANGAN DUNIAWI SENTIASA BERTAMBAH DAN KESUKAAN MEMENUHI SYAHWAT SENTIASA BERKOBAR-KOBAR

Fikirannya tidak lari jauh melainkan sentiasa berfikir untuk melampiaskan syahwat tersebut sehingga dia merasa tenteram bila sudah memperolehinya.  Apabila melihat orang lain memperolehi kenikmatan dunia seperti harta, kedudukan, pangkat, rumah atau pakaian yang bagus dia merasa tersiksa dan menganggap dirinya gagal. Lebih tersiksa lagi apabila yang mendapatkan kenikmatan duniawi itu adalah saudaranya sendiri atau sahabatnya. Kadang-kadang timbul pada dirinya penyakit dengki di mana dia tidak ingin kenikmatan itu tetap ada padasaudaranya. 



BERMALAS-MALAS DALAM MELAKUKAN KEBAIKAN DAN IBADAH

Perkara tersebut terlihat jelas dengan kurangnya perhatian dan semangat. 

Solat yang dilakukan hanya sekadar :

a. Gerakan. 

b. Bacaan. 

c. Berdiri. 

d. Duduk. 

yang tidak memiliki sandaran yang kuat sedikitpun. Bahkan nampak dia merasa terganggu oleh solat seakan-akan dia berada dalam penjara di mana dia ingin sekali berlepas diri darinya secepatmungkin. 


LUPA YANG KETERLALUAN KEPADA ALLAH

Sedikitpun dia tidak berzikir dengan lisannya dan tidak juga ingat kepada Allah swt, padahal dia sentiasa menyaksikan ciptaan Allah swt. Bahkan kadang-kadang dia merasa keberatan untuk sekadar berzikir atau berdoa kepada Allah swt. Jika dia mengangkat tangannya, dengan cepat sekali dia turunkan kembali untuk segera pergi. 


BEBERAPA CARA PENYEMBUHAN

Berikut adalah beberapa cara penyembuhan bagi menyinarkan kembali ruhiyahnya yang telah lesu atau bahkan telah mati.


PERTAMA : SENTIASA DALAM ZIKRULLAH

Yang dimaksudkan dengan zikir di sini adalah berzikir dengan lisan disertai dengan :

a. Persetujuan hati. 

b. Tafakur akan ciptaan Allah. 

c. Mengambil petunjuk melalui makhluk-makhlukNya untuk mengetahui keagungan kekuasaanNya, kecermatan hikmahNya, keluasan rahmatNya serta keterikatan makhluk denganNya. 

d. Merasakan pengawasan Allah dan kekuasaanNya yang mutlak terhadap manusia serta pentingnya memiliki sifat malu kepadaNya. 

Semua perkara tersebut tidak mungkin dicapai dengan mudah bagi orang yang lemah ruhiyahnya. 

Untuk memperolehinya diperlukan :

a. Kesabaran. 

b. Tekad yang tinggi. 

c. Tidak mudah gelisah. 

d. Usaha bertahap sedikit demi sedikit. 


KEDUA : MENGHADIRKAN POTRET AKHIRAT DAN SEGALA YANG AKAN BERLAKU KETIKA INI

Di akhirat nanti akan ada orang yang berkeinginan untuk kembali semula ke dunia bagi menghabiskan seluruh umurnya demi keselamatannya jika dibenarkan. 

Hendaknya seorang aktivis dakwah merenung bahwa rumah akhirat pertama yang akan didudukinya adalah kubur.

Hendaklah dia :

a. Membayangkannya dengan tajam. 

b. Memasang potret kubur yang gelap itu diingatannya. 

c. Mengenang tidurnya yang bersendirian di mana tidak ada penghibur kecuali amalnya. 

Disebut dalam sebuah kitab bahwa dahulu ada seorang yang soleh menggali sebuah kubur di rumahnya. Setiap kali dia merasa kekerasan di hatinya, dia masuk ke dalam kubur tersebut seraya membaca firman Allah :

"Dia berkata, Ya Rabb kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku berbuat amal yang soleh terhadap yang telah kutinggalkan." (QS Al Mu'minun : 99-100) 

Kemudian orang soleh itu berkata :

"Wahai jiwa, kini engkau telah kembali ke dunia, maka beramallah dengan amalan soleh." 


KETIGA : HENDAKLAH SETIAP AKTIVIS DAKWAH INGAT BAHWA KEMATIAN LEBIH DEKAT KEPADANYA DARI TALI KASUTNYA

Janganlah dia tertipu oleh  Kekuatannya. Kesegarannya. 

Kematian tidak mengenal masa muda. Kekuatan dan kesihatan tidak mampu mencegah kehadirannya. 

Di antara hikmah dan rahmat Allah kepada kita bahwa Dia memperlihatkan kepada kita kematian yang merenggut nyawa seorang bayi, anak kecil, orang muda, orang tua dan juga orang sakit. 

Oleh kerananya, setiap orang mesti ingat bahwa dia pasti mengalami kematian bila-bila masa sahaja agar sentiasa bertambah sikap berhati-hati dan bersiap sedia meninggalkan dunia. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perhiasan Wanita Masa Kini

PERHIASAN WANITA MUSLIMAH MASA KINI Anis Fatinah (anisfatinah221@gmail.com) Apa yang terbesit saat kita mendengar istilah "perhiasan"?. Mungkin jawabannya akan beragam, tapi pada hakikatnya akan bermuara pada satu hal yaitu keindahan. Sebagaimana tujuan kita sebagai seorang perempuan yang hendak berhias, salah satunya adalah agar terlihat indah. Wajar, karena memang sudah menjadi fitrahnya bahwa perempuan menyukai keindahan. Meskipun tetap sebutan Makhluk Visual dinobatkan pada laki-laki. Bedanya, orientasi visualisasi laki-laki terdapat pada apa yang dia lihat di luar dirinya, sedangkan perempuan lebih pada apa yang dia pikir orang lain lihat pada dirinya.  That's why produk makeup, skincare, dan yang semisal target pasarnya adalah perempuan. Secara penampilan pun, biasanya siapa coba yang paling rapi (re:ribet)? You got the answer!. Salah gak si? Ngga kok. Sekali lagi, hal tersebut adalah fitrah. Sebagaimana dalam salah satu firman Allah: “Dan Apakah patut (...

Ibadahmu Ingin Sempura? Pahami 3 Hal ini!

  Setiap muslim di seluruh dunia pasti ingin masuk ke dalam surga. Tak peduli siapa dia, bagaimana latar belakangnya, dan bagaimana ibadahnya, mereka pasti ingin masuk ke dalam surga Allah ﷻ . Bagaimana tidak? Pasalnya di dalam surga terdapat banyak sekali kenikmatan yang belum pernah kita pandang, banyak sekali kenikmatan yang belum pernah kita hirup, dan banyak sekali kenikmatan yang belum pernah kita rasakan. Bahkan, perbandingan kenikmatan di dunia dengan di akhirat itu bagaikan satu tetes air dengan seluruh air yang ada di samudra.             Untuk mendapatkan kenikmatan surga yang tiada bandingannya, manusia diperintahkan oleh Allah ﷻ melalui al-Qur’an dan hadits Nabi ﷺ untuk beribadah dan beramal sholeh dengan sempurna. Seperti yang dijelaskan di dalam Q.S. Az-Zukhruf: 72 yang berbunyi: وَتِلْكَ الْجَنَّةُ الَّتِي أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ .... “ .... Itulah surga yang dikaruniakan untuk kalian,...

Cara Menyikapi Ikhtilaf di Kalangan Ulama

  Cara Menyikapi Ikhtilaf di Kalangan Ulama             Makna dari ikhtilaf   itu sendiri adalah adanya perbedaan. Perbedaan yang dimaksud adalah perbedaan yang berdasarkan dalil. Sedangkan, perbedaan yang tidak berdasarkan dalil disebut dengan khilaf. Sehingga, apabila kita mendengar orang berkata, “Ulama ikhtilaf dalam masalah ini”, atau ungkapan, “Ini adalah masalah Khilafiyah ”, itu berarti terdapat perbedaan di antara ulama dalam masalah ini dan perbedaan itu sudah dapat dipastikan berdasarkan dalil.             Ikhtilaf atau perbedaan ini tidak hanya terjadi pada generasi sekarang. Tetapi, Generasi Salaf, Tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in, serta para Shahabat Rasulullah ﷺ pun memiliki ikhtilaf tersendiri dalam masalah-masalah tertentu.             Ikhtilaf Shahabat ketika Rasulullah ﷺ masih hidup salah satunya...