Setiap muslim di seluruh dunia pasti ingin masuk ke dalam
surga. Tak peduli siapa dia, bagaimana latar belakangnya, dan bagaimana
ibadahnya, mereka pasti ingin masuk ke dalam surga Allah ﷻ.
Bagaimana tidak? Pasalnya di dalam surga terdapat banyak sekali kenikmatan yang
belum pernah kita pandang, banyak sekali kenikmatan yang belum pernah kita
hirup, dan banyak sekali kenikmatan yang belum pernah kita rasakan. Bahkan,
perbandingan kenikmatan di dunia dengan di akhirat itu bagaikan satu tetes air
dengan seluruh air yang ada di samudra.
Untuk
mendapatkan kenikmatan surga yang tiada bandingannya, manusia diperintahkan
oleh Allah ﷻ
melalui al-Qur’an dan hadits Nabi ﷺ
untuk beribadah dan beramal sholeh dengan sempurna. Seperti yang dijelaskan di
dalam Q.S. Az-Zukhruf: 72 yang berbunyi:
وَتِلْكَ الْجَنَّةُ الَّتِي أُورِثْتُمُوهَا
بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ....
“....Itulah surga yang dikaruniakan untuk kalian, disebabkan amal sholeh
kalian dahulu di dunia” (QS. Az-Zukhruf: 72)
Namun, kita semua tahu bahwasannya untuk mendapatkan
kesempurnaan dalam ibadah itu sangatlah sulit untuk dicapai. Lalu, bagaimana
caranya agar kita dapat beribadah dengan sempurna demi bisa mendiami surga yang
penuh dengan kenikmatan itu?
Imam
al-Ghazali dalam kitab Minhajul ‘Abidin Ila al-Jannah Rabbil ‘Alamin menjelaskan
bahwa ada tujuh (7) tahapan agar seorang hamba dapat mencapai kesempurnaan
ibadah yang semoga dengan ibadah itu dapat membuat Allah ﷻ
ridho terhadap kita dan memasukkan kita ke dalam surga-Nya. Dari tujuh tahapan
itu, ada satu tahapan, yakni tahapan pertama, yang wajib dikuasai terlebih dahulu
oleh setiap muslim yang ingin mendapatkan kesempurnaan dalam ibadah, yaitu
ILMU.
Kedudukan
ilmu itu laksana pohon, sementara ibadah laksana salah satu buah dari banyak
buah yang terdapat dalam pohon tersebut. Pohon yang bagus pasti akan
meghasilkan buah yang berkualitas. Begitu juga dengan ilmu dan ibadah. Ilmu
yang bagus dan kaffah pasti akan membuahkan ibadah yang sempurna juga. Tidak
mungkin seorang hamba akan mendapatkan buah (ibadah) apabila ia tidak memiliki
pohon (ilmu). Oleh karena itu, kita sebagai seorang muslim harus memiliki ilmu
yang mumpuni, agar ibadah yang kita lakukan dapat menjadi lebih sempurna.
Namun, ilmu apa saja yang wajib dipelajari oleh seorang muslim?
Di dalam
kitab yang sama, yaitu kitab Minhajul ‘Abidin Ila al-Jannah Rabbil ‘Alamin,
Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa ada tiga ilmu yang wajib dipelajari dan
diketahui oleh seorang hamba, yakni ilmu tauhid, ilmu tasawuf (akhlak), dan
ilmu syariat (fiqih).
a. Ilmu tauhid adalah ilmu yang membahas tentang
nama, sifat, perbuatan Allah ﷻ,
dan segala hal yang berkaitan dengan ketuhanan, kenabian, dan pokok-pokok
keimanan. Batasan minimal yang wajib dipelajari dalam ilmu tauhid adalah
sebatas seorang muslim mengetahui pokok-pokok agama. Pokok-pokok agama yang
dimaksud di sini adalah sebagai berikut:
·
Mengetahui bahwa Allah ﷻ
memiliki Asmaul Husna yang merupakan nama-nama terbaik yang hanya
dimiliki oleh Allah ﷻ
semata, seperti Maha Mengetahui, Maha Kuasa, Maha Hidup, Maha Berkehendak, Maha
Berbicara, Maha Mendengar, Maha Melihat, Maha Esa yang tiada sekutu bagi-Nya,
Maha Suci dari sifat kekurangan, dll.
·
Mengetahui bahwasannya Muhammad ﷺ
adalah hamba dan utusan Allah ﷻ.
Dia adalah manusia tepercaya yang membawa wahyu (Al-Qur’an) yang diturunkan
Allah ﷻ dan keterangan-keterangan
(Hadits) yang keluar dari lisannya tentang kehidupan beragama.
·
Mengetahui permasalahan syiar-syiar sunnah atau hadits Nabi ﷺ
yang pada akhirnya itu harus menghindari perkara-perkara atau hal-hal yang baru
dalam agama yang tidak ada dasarnya dalam al-Qur’an ataupun hadits Nabi ﷺ
ataupun atsar. Hal-hal yang baru dalam agama ini maksudnya hanya sebatas pada
hal-hal baru dalam masalah ushul (pokok) agama seperti rukun iman, garis-garis
besar rukun Islam, dll.
Ilmu tauhid ini pada dasarnya sudah terangkum di dalam rukun iman yang 6
itu, seperti iman kepada Allah ﷻ,
kepada malaikat, kepada kitab-kitab, kepada Nabi dan Rasul, kepada hari kiamat,
dan kepada qadha dan qadar. Dan, singkatnya, ketidaktahuan seorang muslim
terhadap ilmu tauhid ini dapat menyebabkan kesesatan yang amat dahsyat dalam
kehidupan beragama. Oleh karena itu, menuntut ilmu tauhid ini hukumnya fardhu
‘ain dan tidak diperkenankan untuk meninggalkannya.
b. Ilmu tasawuf (akhlak) adalah ilmu yang
membahas tentang perbuatan-perbuatan hati. Batasan minimal yang wajib
dipelajari dari ilmu tasawuf (akhlak) ini adalah mengetahui semua yang wajib
dilakukan oleh hati dan semua yang terlarang dilakukan oleh hati.
Perkara-perkara yang wajib dilakukan oleh hati meliputi aktivitas-aktivitas
hati yang terpuji seperti sikap sabar, syukur, takut pada siksa Allah ﷻ,
mengharap kepada rahmat Allah ﷻ,
ridha, zuhud, qana’ah, husnuzhan, dll. Adapun perkara-perkara yang terlarang
dilakukan oleh hati meliputi aktivitas-aktivitas hati yang tercela seperti
sikap gila pujian, su’uzhan, ria, sum’ah, cinta dunia, takabur, dll. Tujuan
dari mempelajari ilmu ini adalah agar kita bisa dan mampu mengagungkan Allah ﷻ,
bersikap ikhlas kepada-Nya dalam beribadah, tulus dalam berniat, dan selalu
beramal dengan baik.
c. Ilmu syariat (fiqih) adalah ilmu yang membahas
perkara tentang hukum-hukum syariat, tata cara ibadah, dan aturan-aturan
muamalah. Batasan minimal yang wajib dipelajari dalam ilmu syari’at adalah
setiap perkara yang wajib dikerjakan maka wajib pula hukumnya mengatahui tata cara
pelaksanaannya. Sehingga, tidak semua perkara dalam syari’at itu wajib
diketahui oleh seorang muslim, kecuali untuk seorang pengajar atau penuntut
ilmu. Namun, ilmu tentang thaharah (bersuci), shalat, dan puasa itu wajib
diketahui dan diamalkan oleh setiap muslim, karena mereka pasti akan
melaksanakan syariat tersebut. Adapun ilmu terkait haji, zakat, jihad,
muamalah, jinayah, dll. itu menjadi wajib apabila kita akan melaksanakan
perkara-perkara tersebut. Sebagai contoh seorang yang ingin melaksanakan haji/umroh,
maka ia wajib untuk mengetahui ilmu yang berkaitan dengan pelaksanaan
haji/umroh.
Oleh karena itu, setiap umat
muslim di seluruh dunia, wajib mempelajari ketiga ilmu di atas dengan tujuan
agar ibadah kita semakin sempurna. Harapannya adalah, dengan ibadah kita yang
sempurna, kita akan mendapatkan ridha Allah ﷻ
baik di dunia, maupun di akhirat nanti. Apabila kita sudah mendapatkan
keridhaan-Nya, maka segala kebutuhan kita, di dunia maupun di akhirat, pasti
akan dipenuhi oleh-Nya, dan surga akan kita dapatkan In Syaa Allah.
Wallahu
A’lam...
Komentar
Posting Komentar