Langsung ke konten utama

Perhiasan Wanita Masa Kini


PERHIASAN WANITA MUSLIMAH MASA KINI

Anis Fatinah
(anisfatinah221@gmail.com)

Apa yang terbesit saat kita mendengar istilah "perhiasan"?. Mungkin jawabannya akan beragam, tapi pada hakikatnya akan bermuara pada satu hal yaitu keindahan. Sebagaimana tujuan kita sebagai seorang perempuan yang hendak berhias, salah satunya adalah agar terlihat indah. Wajar, karena memang sudah menjadi fitrahnya bahwa perempuan menyukai keindahan. Meskipun tetap sebutan Makhluk Visual dinobatkan pada laki-laki. Bedanya, orientasi visualisasi laki-laki terdapat pada apa yang dia lihat di luar dirinya, sedangkan perempuan lebih pada apa yang dia pikir orang lain lihat pada dirinya. 

That's why produk makeup, skincare, dan yang semisal target pasarnya adalah perempuan. Secara penampilan pun, biasanya siapa coba yang paling rapi (re:ribet)? You got the answer!. Salah gak si? Ngga kok. Sekali lagi, hal tersebut adalah fitrah. Sebagaimana dalam salah satu firman Allah:

“Dan Apakah patut (menjadi anak Allah) orang yang dibesarkan dalam keadaan berperhiasan sedang dia tidak dapat memberi alasan yang terang dalam pertengkaran”. (QS. Az-Zukhruf [43] : 18)

Kita tidak sedang membahas ayat ini, tapi coba perhatikan bagaimana penyebutan terhadap subjek dalam ayat tersebut. "orang yang dibesarkan dalam keadaan berperhiasan". Ayat ini menjadi sebuah penegasan bahwa sudah menjadi fitrah bagi perempuan untuk menyukai keindahan.

Fitrah artinya kecenderungan, maka kecenderungan ini selanjutnya akan melahirkan 2 potensi; baik dan buruk. Seumpama rasa cinta, ia murni anugerah Rabb Sang Pencipta, tapi bagaimana pengelolaan dan keputusan kita selanjutnya, itulah yang akan menjadi penentu berkah/tidaknya fitrah yang sudah Allah karuniakan kepada kita. Berbuah pahala, atau justru sebaliknya. Maka Islam hadir, mengatur sedemikian rupa tentang "perhiasan" seorang muslimah. Tujuannya apa? Untuk menjaga kesucian fitrah kita, mengarahkan agar senantiasa sesuai dengan koridor syariatNya.

Poin pertama dan kedua menurutku sebagian besar temen2 sudah familiar dengan bahasan tentang ini. Karena seiring peningkatan fenomena gelombang hijrah, semakin banyak akun2 media sosial Islami (khususnya tentang keakhwatan) yang sorot bahasannya tidak terlepas dari perkara aurat dan yang berkaitan dengannya. Tapi, mari kita coba ulas kembali ya. Sebagai pengokoh pemahaman pribadi sekaligus sarana pengingat diri.

Perhiasan yang Tampak
Perhiasan yang tampak artinya keindahan yang terdapat pada muslimah (secara fisik). Perhiasan ini adalah karunia Allah, dan boleh ditampakkan. Apa saja bagian dari perhiasan yang boleh tampak?

"Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya…" (QS. An-Nur [24] : 31)

Said bin Jubair mengatakan, "yaitu wajah dan telapak tangan". Al-Qurtubhi dalam tafsirnya menyimpulkan, "Karena pada umumnya, wajah dan kedua telapak tangan itu tampak dalam shalat dan haji, maka sudah selayaknya pengecualian itu kembali pada keduanya." Pendapat yang serupa juga dikuatkan oleh 13 mufasir, di antaranya Ath-Thabari dalam Jami' Al-Bayan 'anTa'wil Ayat Al-Quran, Al-Jashash dalam Ahkam Al-Quran, Al-Wahidi dalam Al-Wafizfi Tafsir Al-Qur'an Al-Aziz. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa perhiasan yang boleh tampak adalah wajah dan kedua telapak tangan.

Perhiasan yang Tersembunyi
Sebaliknya, perhiasan tersembunyi berarti bagian fisik perempuan yang tidak boleh tampak kepada yang bukan haknya. Fisik perempuan adalah keindahan, memang sudah demikian. Sebagaimana dalam salah satu firman Allah:

"Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang..." (QS. Ali Imran [3] : 14)

Dari semua keindahan yang Allah nyatakan dalam ayat ini, "wanita" lebih dulu disebutkan di awal. Menunjukkan prioritas dalam kedudukan. Maka benar adanya, bahwa perempuan adalah salah satu wujud keindahan. Keindahan paling indah di antara yang lainnya. Jika merujuk pada definisi sebelumnya tentang cakupan perhiasan yang boleh tampak, maka dapat kita simpulkan bahwa perhiasan yang tersembunyi adalah selain wajah dan telapak tangan

Kepribadian dan Inner Beauty
Imam Al-Ghazali mendefinisikan akhlak sebagai kondisi jiwa yang mantap dalam diri manusia, sehingga menimbulkan suatu perbuatan yang muncul dengan mudah tanpa memerlukan lagi pemikiran dan pertimbangan. Inilah perhiasan yang merupakan penggabungan antara lahiriah dan batiniah. Akhlak memiliki dimensi batin, yakni kondisi jiwa manusia, namun juga memiliki dimensi lahir yaitu perbuatan. Ajaran Islam mencakup berbagai aspek kehidupan, di antaranya aqidah, akhlak, ibadah, muamalah. Namun Rasulullah dalam sebuah hadistnya cukup menyebutkan "akhlak" sebagai representasi dari ajaran Islam.

“Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak.”(HR. Al-Baihaqi)

Perhiasan jiwa muslimah pada dasarnya mencakup tiga hal, yakni spiritual, emosional, dan intelektual. Keindahan spiritual lahir dari kedekatan seorang muslimah pada Rabbnya. Selanjutnya, kematangan emosional akan lahir sebagai konsekuensi dari keindahan spiritual. Dan kematangan intelektual akan menyempurnakan dua keindahan sebelumnya. Sebab faktor ini yang akan berfungsi untuk menempatkan seorang muslimah sebagai "subjek" atau pemegang peranan strategis, bukan sebagai objek eksploitasi. Dan ketiga keindahan inilah yang selanjutnya akan mengantarkan muslimah menjadi sebaik-baik perhiasan sekaligus sebaik-baik manusia, yakni perempuan shalihah yang memberikan kebermanfaatan tidak hanya bagi dirinya sendiri, tetapi juga orang lain. Semoga dengannya, kita tidak hanya "menang" dalam ranah pribadi, tapi juga "menang" secara sosial :)

Perhiasan yang Membahayakan
Perhiasan yang diharamkan bagi muslimah antara lain menyerupai laki-laki, menyambung rambut, memakai tato, mengikir gigi, operasi kecantikan dengan maksud mengubah ciptaan Allah, memakai wewangian yang berlebihan. Dikhawatirkan jika para muslimah bersikeras untuk tetap melakukan apa yang telah diharamkan Allah, akan timbul beberapa kemudharatan di antaranya: mendatangkan fitnah, jalan menuju kerusakan, lahirnya riya dan sombong dan mengikis kepribadian muslimah. Mungkin sekilas terlihat mengerikan. Betapa boleh jadi, hal-hal tersebut masih tanpa disadari kerap kali kita lakukan (semisal berhias berlebihan). Nggak papa yaa kita berproses, pelan-pelan, sedikit demi sedikit. Selalu yakin bahwa ada kebaikan pada setiap apapun yang Allah perintahkan. Ada maksud penjagaan pada segala sesuatu yang Allah haramkan.

Perhiasan Hakiki
Buah dari keimanan yang hakiki adalah amal shalih. Maka sudah sepantasnya bagi kita, para muslimah untuk menjadikan amal shalih sebagai perhatian utama dalam segala aktivitasnya. Dengan demikian, keshalihah sikap adalah sebuah keharusan untuk diperjuangkan. Sebab itulah keshalihah sesungguhnya, perhiasan dunia yang paling berharga dan mulia di antara yang lainnya.

Tidak perlu risau dengan kompetisi fisik, khawatirlah jika segala kenikmatan yang Allah berikan justru tak mendorong kita untuk melahirkan keshalihan diri dan sosial. Fisik itu sifatnya fana, sementara. Sedang amal shalih orientasinya adalah akhirat, kekekalan yang sesungguhnya. Jika kita disampaikan pada masanya, seorang anak yang lahir dari rahim kita pun membutuhkan figur seorang ibu yang unggul secara akhlak, sebagai bekal utama yang kelak mengantarkan keluarga kecil kita sebagai batu bata pembentuk peradaban, bukan justru menjadi penyebab datangnya kerusakan. Dan pada akhirnya, yang kita pertanggungjawabkan kelak di hadapan Allah adalah amalan-amalan kita, bukan fisik apalagi penampilan yang sifatnya hanya sementara.

Pada akhirnya, kita akan menyadari bahwa muara segala penantian kita di dunia adalah kembali menghadap Allah Azza Wa Jalla, Rabb Yang Menciptakan kita. Teringat sebuah kutipan, bahwa setiap kita tentu akan kembali pada Sang Pencipta, tapi orang-orang yang beruntung adalah mereka yang lebih dulu kembali ke jalan Allah, sebelum pada akhirnya kembali pada Allah. Maka, kembalilah ke jalan Allah. Jadilah sebaik-baik hamba, semulia-mulia manusia,

“Dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalihah”. (HR. Muslim)

Menjadi sebaik-baik perhiasan tentu bukan perkara mudah, namun yakinlah bahwa kesulitan dalam liku perjalanan adalah pembeda antara yang bersungguh-sungguh dan sebaliknya. Aku, kamu, kita, berjanjilah untuk memperjuangkan "shalihah" ini bersama-sama. :)


Sumber:
Syahida. 2014. Apa Saja Perhiasan Wanita Yang Boleh Tampak dan Tidak? (https://www.syahida.com/2014/12/11/897/apa-saja-perhiasan-wanita-yang-boleh-tampak-dan-tidak/)
Buku Keakhwatan 2 karya Cahyadi Takariawan



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ibadahmu Ingin Sempura? Pahami 3 Hal ini!

  Setiap muslim di seluruh dunia pasti ingin masuk ke dalam surga. Tak peduli siapa dia, bagaimana latar belakangnya, dan bagaimana ibadahnya, mereka pasti ingin masuk ke dalam surga Allah ﷻ . Bagaimana tidak? Pasalnya di dalam surga terdapat banyak sekali kenikmatan yang belum pernah kita pandang, banyak sekali kenikmatan yang belum pernah kita hirup, dan banyak sekali kenikmatan yang belum pernah kita rasakan. Bahkan, perbandingan kenikmatan di dunia dengan di akhirat itu bagaikan satu tetes air dengan seluruh air yang ada di samudra.             Untuk mendapatkan kenikmatan surga yang tiada bandingannya, manusia diperintahkan oleh Allah ﷻ melalui al-Qur’an dan hadits Nabi ﷺ untuk beribadah dan beramal sholeh dengan sempurna. Seperti yang dijelaskan di dalam Q.S. Az-Zukhruf: 72 yang berbunyi: وَتِلْكَ الْجَنَّةُ الَّتِي أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ .... “ .... Itulah surga yang dikaruniakan untuk kalian,...

Cara Menyikapi Ikhtilaf di Kalangan Ulama

  Cara Menyikapi Ikhtilaf di Kalangan Ulama             Makna dari ikhtilaf   itu sendiri adalah adanya perbedaan. Perbedaan yang dimaksud adalah perbedaan yang berdasarkan dalil. Sedangkan, perbedaan yang tidak berdasarkan dalil disebut dengan khilaf. Sehingga, apabila kita mendengar orang berkata, “Ulama ikhtilaf dalam masalah ini”, atau ungkapan, “Ini adalah masalah Khilafiyah ”, itu berarti terdapat perbedaan di antara ulama dalam masalah ini dan perbedaan itu sudah dapat dipastikan berdasarkan dalil.             Ikhtilaf atau perbedaan ini tidak hanya terjadi pada generasi sekarang. Tetapi, Generasi Salaf, Tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in, serta para Shahabat Rasulullah ﷺ pun memiliki ikhtilaf tersendiri dalam masalah-masalah tertentu.             Ikhtilaf Shahabat ketika Rasulullah ﷺ masih hidup salah satunya...