Langsung ke konten utama

Membenahi Hati di Bulan Suci Ramadhan

MEMBENAHI HATI DI BULAN SUCI RAMADHAN


Anis Fatinah

(anisfatinah221@gmail.com)


Membenahi  hati dibulan yang suci (bulan Ramadhan). Sebelum kita masuk bulan Ramadhan, kita sering mendengar atau kita sendiri yang menyatakan 

“Marhaban Ya Ramadhan”.

Jika kita lihat disana ada kata ”Marhaban”, kata “Marhaban” berasal dari Rohaban yang artinya sesuatu yang lapang atau sesuatu yang luas. Ketika kita mengatakan ”Marhaban Ya Ramadhan”, seakan-akan kita mengatakan “selamat datang ya Ramadhan hati kami sudah lapang”. ”Marhaban Ya Ramadhan” hati kami sudah luas, hati kami sudah ikhlas, hati kami sudah siap untuk menjalankan semua ibadah-ibadah yang engkau janjikan ketika kami laksanakan di bulan ini engkau akan melipat gandakan semua pahala. Tapi ternyata ada hati ketika datang bulan Ramadhan.

Hatinya belum siap, hatinya belum lapang, belum Rahaban ketika bulan Ramadhan datang. Tentunya kalau belum siap, karena memang belum ada persiapan sebelumnya. Misalnya kita mau ujian, belum ada persiapan tentu hal ini membuat kita tidak tau apa yang harus di isi atau mau setoran hapalan, rasanya berat untuk melakukannya. Sama halnya dengan persiapan penyambutan bulan Ramadhan. Misalnya, kalau bulan Ramadhan pastinya kita puasa jika kita selama ini belum melatih puasa, puasa Sunnah (senin-kamis) atau memperbanyak puasa sunnah guna agar tidak terlalu kaget ketika bulan Ramadhan datang atau mengerjakan kiamul lail sebelum Ramadhan datang supaya tidak terlalu kaget ketika Ramadhan datang atau menjaga lisan agar nilai pahala kita tidak berkurang. Harapannya kita selalu berdoa kepada Allah SWT. bahwa Ramadhan kita kali ini, adalah Ramadhan terbaik kita dari Ramadhan sebelumnya jangan sampai kita menjadi orang yang merugi tidak ada perubahan dari tahun. Selalu ikhtiar dan tawakal kepada Allah SWT.

HR.ka’at Bin Hujrah. Bahwa diceritakan, tentang Nabi Muhammad SAW. naik keatas mimbar khutbah, kemudian beliau sambil menaiki tangga ke mimbar bahwa para sahabat pernah mendengar Rasulullah mengatakan:

        ”Aamiin,Aamiin,Aamiin”.

Kemudian Rasulullah melanjutkan Khutbahnya sampai selesai hingga Rasulullah turun. Saat Rasulullah selesai dan turun dari mimbar, para sahabat bertanya kepada Rasulullah

        “Ya Rasulullah,kenapa engkau mengatakan seperti yang kami dengar tadi?”

Rasulullah mengatakan bahwa aku mendengar Malaikat mengatakan “Bu’dan” artinya celaka dan keterlaluan. Para sahabat bertanya kembali kepada Rasulullah,

        “Siapa  celaka dan keterlaluan yang dimaksud wahai Rasulullah?”

Rasulullah pun mengatakan,

“Bu’dan adalah orang ketika masuk Ramadhan tapi dia tidak bisa mengambil manfaat dari Ramadhan itu dan tidak bisa berupaya untuk pengampunan terhadap dosa-dosanya”.

Setelah bulan Ramadhan tidak berkurang dosa-dosanya atau tidak diampuni dosa-dosanya oleh Allah SWT. dengan datangnya bulan Ramadhan atau pun tidak sama saja tidak ada perbedaan sama sekali.Padahal kita ketahui di bulan Ramadhan begitu banyak manfaat yang kita dapat, bulan penuh pengampunan luar biasa.

Kita pernah dengar sebuah hadist yang artinya ”Puasa adalah sebuah perisai seorang hamba berperisai dengan-Nya dari api neraka.” (HR Imam Ahmad). Puasa menghalangi kita dari api neraka. Memang tujuan kita menjauhkan diri dari api neraka, jadi puasa menjadi salah satu perisai kita untuk menjauhkan diri dari api neraka.

Untuk malam harinya, sudah disinggung sebelumnya  Kiamul Lail atau sholat malam. Untuk sholat malam disini disebut dengan sholat Tharaweh. Dimana sudah dijelaskan dalam Hadist artinya:

“Barangsiapa melakukan  kiamul Ramdhan karena iman dan mencari pahala,maka dosa-dosa nya yang lalu akan diampuni.” (HR.Bukhari No.37 dan HR.Muslim No.759).

Artinya semua dosa-dosa kita akan diampuni dengan syarat, sholat malam kita tadi hanya karena iman kita dan semata-mata hanya mencari pahala Allah SWT. semuanya  untuk Allah dan untuk mendapatkan pujian dari-Nya. Ketika kita dipuji oleh orangtua itu haknya, ketika ikhlas karena Allah maka akan mendapatkan pahala itu boleh. Tapi perbuatan yang ingin minta dipuji oleh orang tua itu tidak boleh dilakukan atau mau minta pujian dari orang lain. Maka niatkan karena Allah maka semua akan bernilai pahala.

Sholat taraweh itu, adalah sholat Sunnah Muakad (yang dianjurkan) karena keutamaan-keutamaannya. Semua orang pasti ingin mendapat keutamaan itu apalagi jika semua kiamul lail dilakukan di Bulan Ramadhan ini akan berlipat ganda. Selain itu sholat tahadjut, ketika kita mengerjakan nya akan mendapatkan keutamaan yang luar biasa meskipun bukan bulan Ramadhan apalagi dikerjakan di bulan Ramadhan tentunya akan lebih banyak keutamaan yang kita dapatkan.

Benarnya hati itu, sejajar amal yang kita kerjakan. Semakin banyak kita mengerjakan amal kebaikan kita lakukan Insyaa Allah, Allah akan hapuskan noda-noda/butir-butir/dosa-dosa dalam hati kita sehingga, hati kita kembali suci. Untuk mampu melaksanakan amal ibadah atau kebaikan-kebaikan kita perlu ilmu (pengetahuan) maka dari itu, kita cari keutamaan-keutamaan, cari hadist-hadist. Kalau kita nggak tau, maka kita tidak ada esensi lain yang kita dapatkan dari amal kita.

Jika kita hanya tau bahwa puasa itu hanya menahan haus dan lapar maka kita tidak mendapatkan hadiah dari Allah.Beda dengan orang yang menahan haus dan lapar tapi dia mendapatkan hadiah karena dia punya ilmu pengetahuan dimana dalam hadist sudah dijelaskan bahwa puasanya itu ikhlas,banyak syaratnya seperti menjaga lisan, menjaga tingkah laku, menjaga kemaluan, menjaga hati tentunya agar tidak seudzon dan sebagainya.

Keberkahan yang kita dapat tidak setengah-setengah atau full yang kita dapatkan. Tapi, jika kita puasa masih melakukan hal-hal yang negatif maka pahal kita berkurang. Jadi, ilmu pengetahuan itu sangat penting karena untuk melakukan ibadah dengan benar akan menghasilkan hati yang suci.

Untuk bersama dengan bulan Ramdhan ini kita harus bersiap, kita harus menjadi orang-orang yang sudah siap atau Rahaban (hati yang sudah siap, sudah lapang). Bagaimana Rasulullah mengatakan bahwa antara Ramadhan dan surga itu sangat dekat. Jadi para sahabat dulu kalau mendengar kata dekat dengan surga, maka tidak ada yang mampu menghalangi mereka untuk melakukan hal itu. Contohnya ada seorang sahabat namanya Abu Hamamah, beliau adalah salah satu sahabat Rasulullah yang ikut berperang dalam perang pertama (perang Badar). Kita ketahui bahwa dalam perang tersebut, merupakan perang yang memiliki senjata dan makanan yang sangat sedikit. Sementara musuh baik senjata dan lainnya memiliki fasilitas yang lengkap. Mbak pernah dengar dari ustadzah mbak, bahwa satu pelindung saja bisa dipakai untuk sepuluh orang karena sangat minimnya senjata para sahabat saat perang itu.

Kembali ke Abu Hamamah, Ketika Abu Hamamah makan kurma. Rasulullah ketika perang memperhatikan para sahabat nya dilihatlah nya lah para sahabat ini gentar karena semua kekurangan dan keterbatasan yang sudah dijelaskan tadi. Jadi Rasulullah saat itu berkhutbah,

“Wahai kalian para sahabat, kalian harus tau bahwa antara kalian dengan syurga itu hanya terhalang oleh pasukan musuh yang ada di depan itu”.

Lalu Abu Hamamah yang sedang makan kurma tadi mendengar.

“Ooo jadi yang menghalangi saya ke syurga hanyalah pasukan musuh yang ada di depan”.

Setelah mendengar itu, Abu Hamamah langsung membuang kurmanya ke tanah. Kemudian beliau berteriak mengatakan

“Bakhin!”(ayo kejar)

Ibarat Abu Hamamah tidak sabar lagi menuju ke syurga. Beliau menyatakan bahwa mengunyah kurma tadi kelamaan sehingga membuang kurma ke tanah menuju ke musuh sungguh Abu Hamamah saat itu ghirohnya berkobar. Begitulah para sahabat merindukan syurga, ketika dikatakan bahwa syurga itu dekat. 

Antara Ramadhan dan Syurga itu sangatlah dekat (HR. Thabrani). Semoga dengan kita mengetahui bahwa Ramadhan dan syurga itu sangat dekat, kita mau dan kita berusaha untuk melaksanakan hal-hal di bulan Ramdhan ini dengan sungguh-sungguh.

Jadi, Bulan Ramadhan ini disebutkan dengan Tatazayyan, Syurga itu di dandani, Syurga itu dipersolek, di perindah oleh Allah SWT. Kita sudah tau bahwa syurga itu indah, walaupun keindahan nya tidak bisa kita bayangkan. Di bulan Ramadhan Syurga ini, di dandani lagi, di pesolek, di perindah. Bayangkan betapa indah nya syurga itu ketika bulan Ramadhan. Contohnya, kita sebagai perempuan yang sudah di takdirkan oleh Allah bentuk yang sangat indah, sangat cantik memang kodratnya seorang perempuan cantik dan indah apalagi kalau persolek.

Bulan Ramadhan adalah tamu kita yang paling indah, ternyata bukan Cuma bulan Ramadhan saja yang kita jadikan tamu yang paling indah, tapi syurga juga menyambut kita sebagai tamu nya seperti halnya kita menyambut tamu yang semua harus dipersiapkan dalam penyambutan tersebut. Bagaimana Syurga berkata kepada Allah

“Ya Allah pilihlah sebanyak-banyaknya nama-nama hambamu untuk memasuki ku.”

Allah mengatakan menyebut nama-nama hambanya yang dimasukkan kedalam syurga

“Fulan”

“Fulan”

“Fulan”

Sementara neraka bilang,

“Cuku!”

“Cuku!”

“Cuku!”

Dalam sunnah Tarmidzi hadist kudsi, saat Ramadhan pintu syurga dibuka selebar-lebarnya tidak pernah ditutup sampai mengatakan

“Wahai para pencinta kebaikkan,lanjutkan.Dan para pencinta maksiat,stop untuk melakukan maksiat.”

Artinya sudah cukup untuk melakukan maksiat, sehingga melakukan kebaikkan untuk dapat memasuki ku” (syurga). Dan setiap Magrib Allah memilih siapa yang pantas dibebaskan dari api neraka jadi, untuk kita semua bahwa perbanyak doa dan dzikir kita sebelum waktu magrib. Agar Allah memilih kita sebagai salah satu hamba-Nya yang terbebas dari api neraka. Bukankah tujuan kita terbebas dari api neraka dan masuk Syurga? ya pasti, inilah salah satu perisai kita terhindar dari api neraka adalah Puasa. Untuk semua pengetahuan tentang bulan Ramadhan agar melahirkan ibadah-ibadah yang benar. Kemudian ibadah-ibadah yang benar ni, mampu membenahi hati kita.

Untuk menambah keberkahan di bulan Ramadhan yaitu Sahur dan berbuka.

1. Sahur 

Sahur itu di sunnahkan karena keberkahannya, sahur merupakan Sunnah muakkad (Dianjurkan). Jika dengan sengaja meninggalkan sahur, maka kehilangan keberkahannya.

2. Berbuka

Sering mendengar berbuka bahwa,menyegerakan berbuka atau bahasa arabnya mentakjil artinya menyegerakan. Tapi kita sekarang menyebutkan bahwa takjil itu, makanan berbuka. Bahkan nabi mengatakan:

“Segerakanlah berbuka walau dengan seteguk air atau sebutir kurma.”

“Umatku masih melakukan kebaikan selama menyegerakan berbuka.”(HR.Bukhari)

Jadi kesunnahan ini sangat penting untuk segera berbuka.


Hal-hal/ibadah-ibadah untuk membenahi hati di bulan Ramadhan yaitu:

1. Memperbanyak tilawah

Memperbanyak tilawah ini tentunya adalah sangat penting bahwa tilawah itu saja, banyak kebaikan yang didalamnya satu huruf saja mendatangkan 10 kebaikan.

2. Memperbanyak doa

3. Memperbanyak sadekah

Sedekah adalah bekal kita yang sesungguhnya yang menjadi tabungan utnuk akhirat nanti.

4. Beretika

Beretika merupakan ciri-ciri umat muslim punya etika yang bagus sama siapa pun,orangtua dihormati,anak kecil disayaangi.

5. Menjaga lidah/lisan

6. Menjaga anggota tubuh agar tidak melakukan hal-hal yang Allah laknat

7. Meninggalkan nafsu syahwat

8. Sholat tharawih

9. Sholat tahadjut

10. Sholat witir

11. Dan melakukan sunnah-sunnah lainnya,seperti berbuka dengan kurma.



Sumber:

Abdul, Muhammad. 2012. Ramadhan dan Perbaikan Hati. (https://muslim.or.id/9835-ramadhan-dan-perbaikan-hati.html) Diakses tanggal 15 Maret 2020

Wahyu, Sigit. 2017. Apa Arti Marhaban Ya Ramadhan. (https://bobo.grid.id/amp/08675767/apa-art-marhaban-ya-ramadhan) 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perhiasan Wanita Masa Kini

PERHIASAN WANITA MUSLIMAH MASA KINI Anis Fatinah (anisfatinah221@gmail.com) Apa yang terbesit saat kita mendengar istilah "perhiasan"?. Mungkin jawabannya akan beragam, tapi pada hakikatnya akan bermuara pada satu hal yaitu keindahan. Sebagaimana tujuan kita sebagai seorang perempuan yang hendak berhias, salah satunya adalah agar terlihat indah. Wajar, karena memang sudah menjadi fitrahnya bahwa perempuan menyukai keindahan. Meskipun tetap sebutan Makhluk Visual dinobatkan pada laki-laki. Bedanya, orientasi visualisasi laki-laki terdapat pada apa yang dia lihat di luar dirinya, sedangkan perempuan lebih pada apa yang dia pikir orang lain lihat pada dirinya.  That's why produk makeup, skincare, dan yang semisal target pasarnya adalah perempuan. Secara penampilan pun, biasanya siapa coba yang paling rapi (re:ribet)? You got the answer!. Salah gak si? Ngga kok. Sekali lagi, hal tersebut adalah fitrah. Sebagaimana dalam salah satu firman Allah: “Dan Apakah patut (...

Ibadahmu Ingin Sempura? Pahami 3 Hal ini!

  Setiap muslim di seluruh dunia pasti ingin masuk ke dalam surga. Tak peduli siapa dia, bagaimana latar belakangnya, dan bagaimana ibadahnya, mereka pasti ingin masuk ke dalam surga Allah ﷻ . Bagaimana tidak? Pasalnya di dalam surga terdapat banyak sekali kenikmatan yang belum pernah kita pandang, banyak sekali kenikmatan yang belum pernah kita hirup, dan banyak sekali kenikmatan yang belum pernah kita rasakan. Bahkan, perbandingan kenikmatan di dunia dengan di akhirat itu bagaikan satu tetes air dengan seluruh air yang ada di samudra.             Untuk mendapatkan kenikmatan surga yang tiada bandingannya, manusia diperintahkan oleh Allah ﷻ melalui al-Qur’an dan hadits Nabi ﷺ untuk beribadah dan beramal sholeh dengan sempurna. Seperti yang dijelaskan di dalam Q.S. Az-Zukhruf: 72 yang berbunyi: وَتِلْكَ الْجَنَّةُ الَّتِي أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ .... “ .... Itulah surga yang dikaruniakan untuk kalian,...

Cara Menyikapi Ikhtilaf di Kalangan Ulama

  Cara Menyikapi Ikhtilaf di Kalangan Ulama             Makna dari ikhtilaf   itu sendiri adalah adanya perbedaan. Perbedaan yang dimaksud adalah perbedaan yang berdasarkan dalil. Sedangkan, perbedaan yang tidak berdasarkan dalil disebut dengan khilaf. Sehingga, apabila kita mendengar orang berkata, “Ulama ikhtilaf dalam masalah ini”, atau ungkapan, “Ini adalah masalah Khilafiyah ”, itu berarti terdapat perbedaan di antara ulama dalam masalah ini dan perbedaan itu sudah dapat dipastikan berdasarkan dalil.             Ikhtilaf atau perbedaan ini tidak hanya terjadi pada generasi sekarang. Tetapi, Generasi Salaf, Tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in, serta para Shahabat Rasulullah ﷺ pun memiliki ikhtilaf tersendiri dalam masalah-masalah tertentu.             Ikhtilaf Shahabat ketika Rasulullah ﷺ masih hidup salah satunya...