Kata-katamu
adalah Kualitas Dirimu
Sobat, belakangan Ini media sosial kita
dihangatkan dengan masalah influencer yang seakan melegalkan kata-kata
yang tidak seharusnya di ucapkan di publik. Millenial terbagi menjadi dua kubu
yaitu Pro dan Kontra. Yang Pro memakai dalih kalau hal itu lumrah demi
eksistensi dalam pergaulan anak muda. Yang kontra berdalih hal itu tidak
mencerminkan etika yang baik di hadapan publik.
Ada satu hal yang dapat di petik "Jangan
membenarkan yang biasa tapi mulailah membiasakan yang benar".
Zaman sekarang banyak hal yang sebenernya
tak patut tapi di benarkan, karena sudah menjadi kebiasaan. Bahkan tak jarang
yang benar pun terabaikan. Nah diambil dari penggalan pro kontra di atas, yuk
simak bagaimana pandangan Islam tentang Bahayanya Lisan.
Lisan adalah karunia Allah yang begitu besar.
Dan ia harus senantiasa disyukuri dengan sebenar-benarnya. Cara mensyukuri lisan
ini adalah dengan menggunakannya untuk bicara yang baik atau diam. Bukan dengan
mengumbar pembicaraan semau sendiri. Bukan pula dengan memuaskan nafsu dengan mengumbar
omongan.
Dalam haditsnya Rasulullah SAW. dengan tegas
melarang kita banyak bicara yang sia-sia, "Janganlah kamu sekalian memperbanyak
bicara selain berzikir kepada Allah; sesunguhnya memperbanyak perkataan tanpa zikir
kepada Allah akan mengeraskan hati, dan sejauh-jauh manusia adalah yang hatinya
keras."(HR. Tirmidzi).
Seringkali kita juga tidak sadar jika kita
sedang dalam keadaan emosi yang membuat mulut bisa berkata kasar dan menyakiti
hati orang lain. Perlu diketahui, bahwa hal tersebut sangat dilarang oleh
Allah, Allah melarang umat muslim menyakiti hati orang lain dengan mengucapkan
kata-kata kasar yang dapat memicu permusuhan dan pertengkaran.
Kata-kata yang terucap dari mulut seseorang
kadang-kadang lebih menyakitkan dari apapun. Menurut peribahasa Arab, al-kalaamu
yanfudzu maa laa tan fudzuhul ibaru, yang artinya perkataan itu bisa menembus
apa yang tidak bisa ditembus oleh jarum (hati).
Terlebih acap kali kita lihat bahwa
kata-kata kasar tersebut banyak di ucapkan lewat media online dengan
menggunjing orang lain. Al Imam Tirmidzi meriwayatkan dalam Sunnahnya, dimana
Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:
مَا شَيْءٌ
أَثْقَلُ فِيْ مِيْزَانِ الْمُؤْمِنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ خُلُقٍ حَسَنٍ
وَإِنَّ اللهَ لَيُبْغِضُ الْفَاحِشَ الْبَذِيْءَ
“Sesungguhnya tidak ada sesuatu apapun yang
paling berat ditimbangan kebaikan seorang mu’min pada hari kiamat seperti
akhlaq yang mulia, dan sungguh-sungguh (benar-benar) Allah benci dengan orang
yang lisannya kotor dan kasar.” (Hadits Riwayat At Tirmidzi nomor 2002, hadīts
ini hasan shahīh, lafazh ini milik At Tirmidzi, lihat Silsilatul Ahadits Ash
Shahihah No 876).
Dalam hadīts ini kita perhatikan bahwa
Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam telah mengkaitkan antara akhlaq yang
mulia dengan lisan yang kotor. Seakan-akan bahwasanya kalau kita ingin menjadi
orang yang berakhlaq mulia jangan memiliki lisan yang kotor. Maka jaga lisan
kita. Sesungguhnya orang yang berkata kasar dibenci oleh Allah swt.
Kaum Muslimin di didik dengan ajaran agama
yang benar dan lurus. Islam itu rahmatan lil’alamin (menebar kasih sayang
terhadap sesama) dan mengutamakan akhlak mulia (akhlaqul karimah). Dari Abu
Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ كَانَ
يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا، أَوْ لِيَصْمُتْ
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berkatalah yang baik dan jika tidak maka diamlah.” (HR. Bukhari no. 6018 dan Muslim no. 47)
Sifat orang beriman pula tidaklah mengumpat dengan perkataan dan tingkah laku. Ancaman bagi mereka yang mencela seperti itu jelas dalam potongan ayat Surat Al Humazah berikut:
وَيْلٌ لِكُلِّ هُمَزَةٍ لُمَزَةٍ
“Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela” (QS. Al Humazah: 1)
Ayat ini adalah ancaman bagi orang yang
mencela yang lain dengan perbuatan dan mengumpat dengan ucapan. Hamaz adalah
mencela dan mengumpat orang lain dengan isyarat dan perbuatan. Sedangkan lamaz
adalah mencela orang lain dengan ucapan.
Mukmin atau muslim yang baik tidak akan
berkata keji, kotor, melaknat, mencela, dan sebagainya yang buruk-buruk. Muslim
sejati akan berbicara sopan, santun, tidak menyakiti hati orang lain, dan
selalu baik dalam berbicara atau berkomentar.
Maka itu, jauhilah perkataan kasar
(perkataan kotor), hindari kebiasaan suka menyindir orang lain, suka
menjatuhkan orang lain, suka mengejek orang lain, bahkan sampai memfitnah
orang lain.
Semoga kita diberi kekuatan untuk menjadi
Muslim yang baik, taat perintah Allah dan Rasul-Nya, termasuk orang yang tidak
berkata kasar, kotor, keji, mengumpat, dan sebagainya. Aamiin.
Wallahu A'lam Bisshawab.
Sumber :
https://inilah.com/news/2141616/mulutmu-harimaumu-jagalah-lisanmu

Komentar
Posting Komentar