Dakwah ala Generasi Milenial di Tengah Fase Bonus Demografi
Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) RI menyatakan, Indonesia akan mengalami bonus demografi pada tahun 2020-2030. Pada masa tersebut manusia khususnya di Indonesia bahkan dunia berada di usia produktif, yaitu umur 15 hingga 64 tahun. Usia tidak produktif hanya sekitar 30% yaitu umur di bawah 15 dan diatas 64.
Hal ini berdampak pada populasi jumlah generasi muda, yang kerap di sebut generasi milenial. Generasi milenial merekalah yang lahir mulai tahun 1982 hinga dua puluh tahun setelahnya. Menurut teori Strauss Howe, generasi terbagi menjadi empat yaitu, generasi baby boom (terlahir tahun 1943 – 1960, generasi X (terlahir tahun (1961 – 1981), generasi Y atau kerap disebut generasi milenial (lahir 1982 – 2004), dan generasi Z atau Homelanders (sejak 2005).
Maka membuktikan bahwa pada tahun 2020 ini, generasi Y (milenial) kini berada di fase usia produktif (16 – 38 tahun). Generasi milenial memiliki pola hidup yang berpengaruh terhadap berbagai aspek kehidupan personal maupun publik seperti; Sosial, budaya, hingga politik dan ekonomi bahka agama.
Dalam sosial media, generasi milenial menjadi penggerak utamanya. Kini terlihat pada geliat ekonomi kreatif dengan ragamnya profesi yang memanfaatkan situs online YouTube, Twitter, Instagram, Facebook hingga memasuki aplikasi messenger seperti whatsApp dan line.
Riset dan publikasi tentang generasi milenial mulai banyak dilakukan. Namun sayang sekali masih sulit mencari referensi secara spesifik mengenai muslim milenial. Padahal jika dilihat, Indonesia sendiri merupakan negara dengan jumlah penduduk terbesar di dunia. Data terkini dari Central Inteligency Indonesia meiliki 225 juta jiwa umat muslim. Negara_negara jazirah arab pun terlampaui cukup jauh yang mula Islam terbentuk di daerah tersebut. Data terkini populasi muslim Indonesia yaitu 87% dari total jumlah penduduk Indonesia. Proporsi yang cukup signifikan.
Melihat fakta tersebut, posisi muslim milenial Indonesia begitu stategis untuk masa depan Islam. Bukan dalam cakupan Nasional saja, namun bisa mencapai Internasional. Muslim milenial di negri ini dapat mengangkat citra Muslim Indonesia menjadi panutan dunia sebagaimana seharusnya kehidupan Islam. Juga bentuk dari jawaban dalam menghadapi tantangan global.
Bicara soal citra Islam Indonesia, sebetulnya sudah di akui oleh dunia. Dua dekade yang lalu, banyak media Internasional yang memuji eksistensi Islam Indonesia. Gerakan-gerakan Islam di Indonesia yang identik dengan visi kemanusiaan dan kebangsaan membuat berbagai pihak resah. Hingga banyak timbul pertanyaan “ada apa gerangan dengan wajah Islam Indonesia yang tersenyum itu?”.
Disinilah peluang Muslim Milenial semakin besar untuk berperan. Kondisi saat in, narasi kebencian kini semakin meluas dan menyebar di lingkungan kita. Melalui argumentasi-argumentasi, konten-konten, komentar di setiap media yang sering kita jumpai. Tak jarang pula hal tersebut dijejali dengan kekerasan verbal dan visual. Milenial Indonesia di beri dua pilihan. Membiarkan narasi kebencioan itu meluas ruang geraknya, atau membuat tandingan narasi kebajikan dengan viralisasi ala generasi milenial.
Angga Mustofa
Founder Islamic Millennial

Komentar
Posting Komentar