Sobat Millenial tak terasa ya. Kamis
kemarin (20 Agustus 2020) kita telah
memperingati tahun baru Islam 1442 H. Memang tak semeriah perayaan tahun baru
masehi. Namun, geliat syiar yang menandakan pergantian tahun Islam atau tahun
baru Hijriah terus diperkuat.
Di sejumlah daerah, tradisi perayaan Tahun Baru Islam masih terjaga. Mulai dari pawai obor, pengajian, zikir, hingga doa bersama. Semangat ini perlu dijaga, karena generasi baru bertitel generasi Milenial telah muncul. Mereka tentu tahu kalender Hijriyah, namun pertanyaannya, seberapa pentingkah kalender hijriah ini untuk mereka. Apalagi masyarakat kita sudah terbiasa dengan pola penanggalan masehi.
Kita tarik sejenak, jauh ketika para Khalifah
menggantikan Nabi SAW guna meneruskan jalan dakwah. Tentu bukan tanpa alasan
Amirul Mukminin Umar bin Al-Khathab menetapkan peristiwa hijrah sebagai dasar
perhitungan tahun dalam kalender kaum muslimin.
Hijrah berarti berpindah dengan meninggalkan suatu tempat menuju tempat yang lain, atau berubah dengan meninggalkan suatu kondisi untuk menuju kondisi yang lain. Dalam Islam, hijrah terbagi menjadi dua macam :
1. Hijrah hissiyyah
Yaitu hijrah fisik dengan berpindah tempat,
dari darul khauf (negeri yang tidak aman dan tidak kondusif) menuju darul amn
(negeri yang relatif aman dan kondusif), seperti hijrah dari Kota Makkah ke
Habasyah (Ethiopia) dan dari Makkah ke Madinah.
2. Hijrah ma'nawiyyah (hijrah nilai)
Yaitu dengan meninggalkan nilai-nilai atau
kondisi-kondisi jahiliah untuk berubah menuju nilai-nilai atau kondisi-kondisi
Islami. Seperti dalam aspek akidah, ibadah, akhlak, pemikiran dan pola pikir,
muamalah, pergaulan, cara hidup.
Bila ditarik untuk konteks saat ini,
pemaknaan hijrah tak perlu mengukur jarak
antara Makkah-Madinah. Cukuplah kesadaran pribadi sebagai ukuran, bahwa hijrah
sejati ialah perpindahan dinamis—meminimalisasi akhlak madzmumah menuju akhlak
mahmudah.
Yang perlu dipahami pula, jangan dulu
pesimistis soal akhlak milenial ini. Justru inilah tantangan kita, bagaimana
membuat dakwah menjadi 'gw banget'. Kita tentu menyimak dari teladan
Rasulullah, betapa rapinya beliau dalam merancang dan membuat “program”
dakwah. Betapa luar biasanya usaha yang
dilakukan oleh Rasulullah SAW yang selalu mencoba berbagai inovasi baru dalam
dakwahnya.
Generasi milenial harus menjadi generasi aktif dan kreatif yang selalu menciptakan perubahan yang positif dalam hidup. Sebagai Agent of Change, kita dituntut untuk dapat membawa perubahan kepada kehidupan yang lebih dinamis dan modern. Dengan pengetahuan dan pendidikan yang lebih berkembang dari sebelumnya, khususnya pengetahuan dan pendidikan islam. Menjadi muslim millenial adalah menjadi muslim yang gaul, cerdas, melek tekhnologi dan sekaligus modern baik dari segi penampilan, bicara, sikap hingga pola pikir.
Dalam hal ini juga harus dibarengi dengan
tingkat moralitas yang baik. harus bisa membedakan mana yang haq dan mana yang
bahil sehingga memiliki jiwa moralitas yang tinggi utamanya dalam bersikap di masyarakat.
Dengan adanya pergantian tahun baru islam
1442 H ini. Kita harus melakukan muhasabah dan introspeksi diri dengan
bertanya, sejauh mana perubahan, peningkatan dan perbaikan Islami telah terjadi
dalam diri dan kehidupan kita, baik dalam skala individu, kelompok, jamaah,
masyarakat, bangsa, maupun dalam skala umat Islam secara keseluruhan?
Wallahualam bis shawab.
Sumber :
https://www.google.com/amp/s/m.republika.co.id/amp/peufgi318

Komentar
Posting Komentar