Islamic Millenial sebagai Komunitas Penggerak Generasi Muslim di Era Millenial
Anis Fatinah
(anisfatinah221@gmail.com)
Millennial yang juga disebut dengan generasi Y adalah sekelompok orang yang lahir setelah Generasi X, yaitu orang yang lahir pada kisaran tahun 1980-2000 an. Ini berarti millenial adalah generasi muda yang berumur 17- 34 pada tahun ini. Meskipun beberapa siswa millennial telah putus sekolah atau lulus di universitas dan memasuki dunia kerja, namun sebagian besar dari mereka masih berada di dalam sistem sekolah. Generasi millenial adalah generasi melek digital, yang lahir bersamaan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Seiring dengan berjalannya waktu mereka mudah sekali dibid'ah dan dikafirkan orang lain.
Hal itu sebagai dampak negative yang diakibatkan “kecenderungan disorientasi” itu antara lain adalah terjadinya globalisasi, individualisasi, materialisasi dan bahkan sekularisasi, dalam arti memisahkan urusan agama dengan kehidupan pada umumnya. Agama, dalam arti ini, dianggap sebagai kotak tersendiri yang terpisah dengan kotak-kotak urusan kehidupan lainnya. Mereka yang mudah sekali mengakses informasi dari berbagai “halaqah” di dunia maya, semacam google, youtube, wikipedia, line, facebook, instagram, twitter, whatsapp, dan lainnya menjadikan dunia hampir kehilangan ruhnya karena setiap media social mengandung banyak sekali kemudharatan.
Lantas bagaimana mengatasinya? Islamic Millenial-lah sebagai komunitas penggerak generasi muslim di era millenial yang didirikan pada tanggal 29 Maret 2020. Generasi muslim millenial adalah generasi muda muslim yang terikat oleh cara memandang dunia bahwa keimanan dan modernitas bisa berjalan beriringan. Generasi muslim millenial harus mampu melihat dunia bukan hanya dengan mata sendirinya melainkan setiap jendela langkahnya membuka jendela pikiran. Tutur katanya menggerakkan, karyanya memberikan sebuah dampak. Sesuai dengan motonya “Bergerak dan Berdampak”.
Islamic Millenial menjadi salah satu upaya untuk menangkal ujaran kebencian, hoax, ekstremisme, radikalisme, sampai terorisme. Melalui penyajian materi yang kontekstual diiringi dengan ustad melek teknologi membuat generasi milenial semakin tertarik belajar keagamaan. Komunitas ini dicetuskan oleh Angga Mustofa dan diketuai oleh Nur Afni Habibah. Kemudian mereka membuat open recruitment pengurus Islamic millenial tahun 2020/2021 dengan pembagian 4 divisi yaitu: divisi multimedia, divisi humas dan publikasi, divisi komite seminar dan divisi kesekretariatan. Setelah melalui rapat kerja maka diperolehlah 15 pengurus yang siap memulai dan merintis Islamic millenial hingga nantinya dapt berkembang secara luas. Islamic Millenial ini bergelut di media social, mulai dari konten edukasi hingga mengadakan kajian, motivasi, kegiatan social, dan lain sebagainya.
“Jika tik tok bisa eksis di media social, apakah kita tidak bisa? Jika musik dan hiburan lainnya bisa eksis di tangan dan hati mereka, apakah kajian dan seminar online yang kita adakan tidak bisa?”, tutur founder Islamic Millenial. Kita tahu, yang lebih tau tentang anka muda biasanya adalah kalangan anak muda juga. Dengan banyaknya da’i muda yang menyebarkan Islam moderat, diharapkan makin banyak generasi milenial atau anak-anak muda yang tertarik dan terus mendalami keberagamaan yang moderat dan damai.
Seperti juga diungkapkan pengamat terorisme Ridlwan Habib, sulitnya situs NU dan Muhammadiyah mencuri perhatian kaum milenial disebabkan nihilnya tokoh muda. Selain itu, narasi dan kemasan yang disuguhkan di situs atau media sosial mereka (NU dan Muhammadiyah) kalah renyah. Ia bahkan menyarankan untuk memperbanyak konten-konten keagamaan dengan pendekatan yang disukai anak muda, seperti percintaan dan pencarian jati diri (bbc.com, 21/02/2019).
Kita berharap, dengan memaksimalkan dakwah moderasi Islam secara digital kepada kaum milenial, akan tumbuh banyak generasi muda yang memiliki semangat moderasi dalam beragama. Semangat beragama yang moderat atau Islam Washatiyah tersebut akan menjadi benteng yang melindungi generasi milenial dari berbagai ideologi atau paham-paham radikal yang beterbaran di dunia maya. Berbekal pemahaman agama yang moderat, anak-anak muda milenial tersebut akan tumbuh menjadi individu-individu penebar Islam Rahmatan Lil alamin, yakni Islam yang membawa rahmat dan kebaikan bagi seluruh alam semesta. Beragama menjadi jalan menyebarkan kasih sayang, persaudaraan, dan kebersamaan, sehingga membawa kebaikan dan kemanfaatan bagi semesta.
Sumber:
Sukardi, Akhmad. “Metode Dakwah Dalam Mengatasi Problematika Remaja.”. Al-Munzir 9, no. 1 (2016): 12–28.
Suriani, Julis. “Komunikasi Dakwah Di Era Millenial.” Jurnal An-nida’: Jurnal Pemikiran Islam 41, no. 2 (2017): 252–265.
Komentar
Posting Komentar