Adab dalam Menggunakan Media Sosial
Raynald Phoebus M
raynald.phobus@gmail.com
Teman-teman semua pasti udah gak asing lagi kan dengan istilah media sosial? Iya, itu loh yang biasa teman-teman pakai untuk menghubungi teman, saudara, atau orang tua. Selain itu, media sosial juga dipakai untuk mencari informasi-informasi terkini, karena seluruh informasi dari segala sektor pun sekarang mudah sekali menyebar di media sosial. Mulai dari WhatsApp, LINE, Instagram, Twitter, sampai Facebook pasti sudah tidak asing lagi di telinga kita, bahkan kita pun pasti pernah menggunakan salah satu dari media sosial tersebut.
Tau gak sih bahwa kemunculan media sosial ini sudah ‘diramalkan’ oleh Rasulullah SAW. berabad-abad yang lalu? Berikut adalah hadits yang berkaitan dengan hal tersebut.
إِنَّ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ تَسْلِيمَ الْخَاصَّةِ، وَفُشُوَّ التِّجَارَةِ، حَتَّى تُعِينَ الْمَرْأَةُ زَوْجَهَا عَلَى التِّجَارَةِ، وَقَطْعَ الْأَرْحَامِ، وَشَهَادَةَ الزُّورِ، وَكِتْمَانَ شَهَادَةِ الْحَقِّ، وَظُهُورَ الْقَلَمِ
“Sesungguhnya di hadapan hari kiamat akan muncul fenomena berupa: salam ditebarkan ke orang-orang tertentu saja, menjamurnya perdagangan sampai-sampai istri membantu suaminya berdagang, diputuskannya tali silaturahim, persaksian palsu, disembunyikannya persaksian yang benar, dan tampilnya pena.” [HR. Ahmad 3870]
Kita akan fokus dengan poin yang terakhir, yaitu tampilnya pena. Maksud pena disini, menurut Syaikh Ahmad Syakir, yaitu menjamurnya tulisan. Nah, media sosial merupakan produk yang nyata yang mendefiniskan kalimat “menjamurnya tulisan”. Dalam hitungan detik, berbagai tulisan, mulai dari yang baik hingga yang buruk dapat kita temui di media sosial. Fenomena ini lah yang penulis khawatirkan, karena jika kita tidak bijak dalam menggunakan media sosial, maka kita akan terjebak dalam dampak negatif salah satu produk hasil kemajuan teknologi ini.
Media sosial dapat diibaratkan sebagai pisau yang dapat digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat sekaligus hal-hal yang berbahaya. Media sosial dapat digunakan sebagai wadah untuk berpendapat, beropini, menyampaikan informasi, berbagi kebahagiaan maupun kesedihan, dan hal-hal lain yang dapat dilakukan oleh penggunanya. Walaupun memiliki banyak sekali dampak positif, namun media sosial ini juga ternyata memiliki dampak negatif, apa aja sih? Akhir-akhir ini, kita menjumpai banyak sekali “hate speech” atau ujaran kebencian di media sosial, kita juga dapat dengan mudah menemui orang yang melakukan aktivitas bullying di media sosial, kedua hal tersebut adalah ‘sebagian kecil’ dampak negatif yang dapat kita temui di media sosial. Agar media sosial dapat menjadi sarana untuk mendapatkan pahala dan menjauhkan perbuatan dosa, maka kita perlu mengetahui adab atau etika dalam menggunakan media sosial. Bagaimana sih tata cara menggunakan media sosial dengan baik? Yuk, kita bahas bersama-sama.
1. Memiliki niat yang benar
Niatkanlah diri kita ketika menggunakan media sosial, yaitu sebagai media untuk melakukan hal-hal yang baik dan menjauhkan diri dari kemaksiatan atau perbuatan dosa. Ketika kita memiliki niat yang benar dalam menjalankan sesuatu, maka niat itupun akan terlaksana, sehingga tidak akan merugikan orang lain. Karena baik atau tidaknya sikap kita, ya tergantung niat kita di awal, apakah niatnya baik atau buruk? Sebagaimana sabda Rasulullah SAW.
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَإِنَّمَا لاِمْرِئٍ مَا نَوَى
“Sesungguhnya amal tergantung niatnya dan bagi seseorang apa yang dia niatkan.” (HR. Bukhori no. 1, Muslim no. 1907)
Maka dari itu, yuk kita niatkan media sosial sebagai sarana untuk kita melakukan hal-hal baik dan sebagai sarana untuk mengumpulkan pahala, bukan sebaliknya. Kuatkanlah niat kita semua supaya kita terhindar dari segala perbuatan dosa dan terhindar dari dampak-dampak negatif media sosial.
2. Tetap menggunakan bahasa yang santun
Banyak diantara kita semua, baik itu bapak-bapak, ibu-ibu, sampai kita para generasi muda cenderung lebih ‘aktif’ dalam menggunakan media sosial. Diantara kita semua pasti ada yang kadang atau bahkan cukup sering mengirim pesan tanpa memperhatikan apakah bahasa yang dipakai itu sopan atau tidak. Apakah kata-kata kita bisa dibilang ‘aman’ ketika orang lain membacanya? Ingatlah bahwa setiap perkataan yang kita tulis, selalu dicatat oleh malaikat. Nah, maka dari itu kita tetap harus menjaga kata-kata yang kita pakai ketika saling berkirim pesan dengan orang lain, sama seperti ketika kita bertemu orang lain di kehidupan nyata. Seperti firman Allah SWT. berikut ini:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًايُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu sekalian kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki amalan-amalanmu dan mengampuni dosa-dosamu. Barangsiapa mentaati Allah dan RasulNya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar” [Al-Ahzab : 70-71]
Dalam ayat tersebut, dijelaskan bahwa ketika kita bertakwa kepada Allah dan mengatakan perkataan yang benar, niscaya Allah akan memperbaiki amalan-amalan dan mengampuni dosa-dosa kita semua. Wah, sungguh ganjaran yang luar biasa bukan? Maka dari itu, yuk kita sama-sama membiasakan diri dengan mengatakan perkataan yang baik dan benar, baik itu di kehidupan nyata maupun di media sosial.
3. Menghargai pendapat orang lain
Sering sekali penulis menjumpai orang-orang yang men-judge atau menyangkal pendapat orang-orang yang tidak sependapat dengan mereka di media sosial. Padahal setiap orang mempunyai hak untuk berpendapat, dan pemikiran setiap orang pun berbeda-beda. Di media sosial, ketika ada orang yang mempunyai pendapat yang berbeda dengan kebanyakan orang, maka dia akan di-bully ramai-ramai oleh netizen. Maka dari itu, patutlah kita menghargai pendapat yang berbeda dan jangan merendahkan atau bahkan menghina pendapat orang lain yang berbeda dari kita. Jangan sampai kita disebut orang yang sombong karena merendahkan orang lain, seperti dalam hadits berikut ini.
إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ
“Sesungguhnya Allah itu jamil (indah) dan menyukai suatu yang indah. Sombong adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia.” (HR. Muslim no. 91)
4. Menumbuhkan sifat kritis
Dengan menjamurnya pengguna media sosial, maka semakin banyak pula informasi-informasi yang beredar, baik informasi yang valid sampai informasi yang palsu atau biasa disebut dengan hoax. Maka dari itu, kita harus lebih berhati-hati dalam menyaring informasi. Kita harus bisa membedakan informasi yang valid dengan yang palsu, supaya kita dapat memutus rantai penyebaran hoax. Kita harus lebih bijak lagi dalam menyebarkan suatu informasi, kita harus memastikan apakah informasi yang kita terima itu valid, dan apakah informasi yang kita terima itu akan mendatangkan kebaikan atau justru akan mendatangkan keburukan. Sebagaimana firman Allah SWT. berikut ini.
وَإِذَا جَاءَهُمْ أَمْرٌ مِنَ الْأَمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُوا بِهِ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَى أُولِي الْأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُمْ وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لَاتَّبَعْتُمُ الشَّيْطَانَ إِلَّا قَلِيلًا
“Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka langsung menyiarkannya. padahal jika mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu).” [QS. an-Nisa’: 83]
Dengan pesatnya pertumbuhan media sosial, tentu adab-adab yang sudah disebutkan harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan niat yang benar, kita harus memastikan bahwa media sosial adalah sarana untuk mendatangkan kebaikan, bukan keburukan. Oleh karena itu, kita perlu lebih kritis dan berhati-hati serta bijak dalam menggunakan media sosial, agar media sosial tidak menjadi bumerang yang dapat menyerang diri kita sendiri.
Semoga kita semua dapat menjadi manusia yang semakin beriman dan bertakwa kepada Allah serta dapat menjadi pribadi yang bertanggung jawab atas segala tindakan yang sudah diperbuat. Semoga Allah merahmati kita semua dan menjauhkan kita dari perbuatan-perbuatan yang buruk, aamiin yaa rabbal ‘alamin.
Referensi:
Abduh, Muhammad. 2014. “Bijak Menghargai Perbedaan Pendapat”. (https://rumaysho.com/6488-bijak-menghargai-perbedaan-pendapat.html) diakses pada 29 Juli 2020
Budiman, Aditya. 2015. “7 Adab Bersosial Media”. (https://alhijroh.com/adab-akhlak/7-adab-bersosial-media/#_ftn1) diakses pada 29 Juli 2020
Editor Alhujjah. 2017. “Adab Bermedia Sosial”. (https://www.alhujjah.com/2017/10/31/adab-bermedia-sosial/) diakses pada 29 Juli 2020
Muhsin, Abdul. Tanpa Tahun. “Menjaga Lisan Agar Selalu Berbicara Baik”. (https://almanhaj.or.id/3197-menjaga-lisan-agar-selalu-berbicara-baik.html) diakses pada 29 Juli 2020
Komentar
Posting Komentar